Keraton Kasepuhan
SILSILAH SULTAN KASEPUHAN CIREBON

1. Pangeran Pasarean
2. Pangeran di Jati Carbon
3. Panembahan Ratu
4. Pangeran di Jati Carbon
5. Panembahan Girilaya
6. Sultan Raja Syamsudin
7. Sultan Raja Tajularipin Jamaludin
8. Sultan Sejuh Raja Jaenudin
9. Sultan Sepuh Raja Suna Moh Jaenudin
10. Sultan Sejuh Safidin Matangaji
11. Sultan Sejuh Hasanudin
12. Sultan Sepuh I
13. Sultan Sejuh Raja Samsudin I
14. Sultan Sejuh Raja Samsudin II
15. Sultan Sepuh Raja Ningrat
16. Sultan Sepuh Jamaludin Aluda
17. Sultan Sejuh Raja Rajaningrat
18. Sultan Pangeran Raja Adipati H. Maulana Pakuningrat, SH
19. Sultan Pangeran Raja Adipati Arif Natadiningrat
Kereta Singo Barong buatan tahun 1549 atas prakarsa Raja Cirebon Panembahan Ratu Pakungwati I (1526-1649), adalah bukti betapa terbukanya Cirebon tempo itu dalam pergaulan antarbangsa, yang sama sekali tidak mengindahkan suku, ras, atau agama. Wajah kereta ini merupakan perwujudan tiga binatang yang digabung menjadi satu, gajah dengan belalainya, bermahkotakan naga dan bertubuh hewan burak. Belalai gajah merupakan persahabatan dengan India yang beragama Hindu, kepala naga melambangkan persahabatan dengan Cina yang beragama Buddha, dan badan burak lengkap dengan sayapnya, melambangkan persahabatan dengan Mesir yang beragama Islam.

Keraton
Kasepuhan didirikan pada tahun 1529 oleh Pangeran Mas Mochammad Arifin II
(cicit dari Sunan Gunung Jati) yang menggantikan tahta dari Sunan Gunung Jati
pada tahun 1506. Ia bersemayam di dalem Agung Pakungwati Cirebon. Keraton
Kasepuhan dulunya bernama Keraton Pakungwati, sedangkan Pangeran Mas
Mochammad Arifin bergelar Panembahan Pakungwati I. Sebutan Pakungwati berasal
dari nama Ratu Dewi Pakungwati binti Pangeran Cakrabuana yang menikah dengan
Sunan Gunung Jati. Ia wafat pada tahun 1549 dalam Mesjid Agung Sang Cipta Rasa
dalam usia yang sangat tua. Nama beliau diabadikan dan dimuliakan oleh nasab
Sunan Gunung Jati sebagai nama Keraton yaitu Keraton Pakungwati yang sekarang
bernama Keraton Kasepuhan.
Di
depan Keraton Kesepuhan terdapat alun-alun yang pada waktu zaman dahulu bernama
Alun-alun Sangkala Buana yang merupakan tempat latihan keprajuritan yang
diadakan pada hari Sabtu atau istilahnya pada waktu itu adalah Saptonan. Dan di
alun-alun inilah dahulunya dilaksanakan berbagai macam hukuman terhadap setiap
rakyat yang melanggar peraturan seperti hukuman cambuk. Di sebelah barat
Keraton kasepuhan terdapat Masjid yang cukup megah hasil karya dari para wali
yaitu Masjid Agung Sang Cipta Rasa.
Sedangkan
di sebelah timur alun-alun dahulunya adalah tempat perekonomian yaitu pasar -- sekarang
adalah pasar kesepuhan yang sangat terkenal dengan pocinya. Model bentuk
Keraton yang menghadap utara dengan bangunan Masjid di sebelah barat dan pasar
di sebelah timur dan alun-alun ditengahnya merupakan model-model Keraton pada
masa itu terutama yang terletak di daerah pesisir. Bahkan sampai sekarang,
model ini banyak diikuti oleh seluruh kabupaten/kota terutama di Jawa yaitu di
depan gedung pemerintahan terdapat alun-alun dan di sebelah baratnya terdapat
masjid.
Sebelum
memasuki gerbang komplek Keraton Kasepuhan terdapat dua buah pendopo, di
sebelah barat disebut Pancaratna yang dahulunya merupakan tempat
berkumpulnya para punggawa Keraton, lurah atau pada zaman sekarang disebut
pamong praja. Sedangkan pendopo sebelah timur disebut Pancaniti yang
merupakan tempat para perwira keraton ketika diadakannya latihan keprajuritan
di alun-alun.
SILSILAH SULTAN KASEPUHAN CIREBON

1. Pangeran Pasarean
2. Pangeran di Jati Carbon
3. Panembahan Ratu
4. Pangeran di Jati Carbon
5. Panembahan Girilaya
6. Sultan Raja Syamsudin
7. Sultan Raja Tajularipin Jamaludin
8. Sultan Sejuh Raja Jaenudin
9. Sultan Sepuh Raja Suna Moh Jaenudin
10. Sultan Sejuh Safidin Matangaji
11. Sultan Sejuh Hasanudin
12. Sultan Sepuh I
13. Sultan Sejuh Raja Samsudin I
14. Sultan Sejuh Raja Samsudin II
15. Sultan Sepuh Raja Ningrat
16. Sultan Sepuh Jamaludin Aluda
17. Sultan Sejuh Raja Rajaningrat
18. Sultan Pangeran Raja Adipati H. Maulana Pakuningrat, SH
19. Sultan Pangeran Raja Adipati Arif Natadiningrat
Kereta Singa Barong

Kereta Singo Barong buatan tahun 1549 atas prakarsa Raja Cirebon Panembahan Ratu Pakungwati I (1526-1649), adalah bukti betapa terbukanya Cirebon tempo itu dalam pergaulan antarbangsa, yang sama sekali tidak mengindahkan suku, ras, atau agama. Wajah kereta ini merupakan perwujudan tiga binatang yang digabung menjadi satu, gajah dengan belalainya, bermahkotakan naga dan bertubuh hewan burak. Belalai gajah merupakan persahabatan dengan India yang beragama Hindu, kepala naga melambangkan persahabatan dengan Cina yang beragama Buddha, dan badan burak lengkap dengan sayapnya, melambangkan persahabatan dengan Mesir yang beragama Islam.







0 komentar:
Posting Komentar